Apa Itu Imunisasi DPT? Wajibkah untuk Anak-anak?

Imunisasi DPT merupakan salah satu imunisasi yang wajib diberikan kepada anak-anak di Indonesia. Kenapa bayi atau anak-anak harus diberikan imunisasi ? Karena pada dasarnya bayi sangat rawan terserang berbagai macam penyakit, untuk itulah perlu diberikan imunisasi secara rutin. Supaya lebih jelas mengenai pengertian, manfaat, jadwal pemberian dan efek samping imunisasi DPT berikut penjelasannya.

Pengertian Imunisasi DPT

Imunisasi DPT merupakan vaksin yang berisi kuman Difteri, Petusis, dan Tetanus yang sudah dilemahkan yang kemudian digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap penyakit Difteri, Petusis, dan Tetanus. Vaksin ini terdiri atas dua jenis yaitu vaksin panas dan tidak panas.

Jadwal Pemberian Imunisasi DPT

Untuk pemberian imunisasi dapat dilakukan sebanyak 5 kali yaitu 3 kali imunisasi dasar dan 2 kali imunisasi lanjutan. Kenapa dilakukan imunisasi sebanyak 3 kali ? Hal ini karena tubuh bayi saat pemberian imunisasi dasar masih belum memiliki antibodi yang protektif terhadap virus dan bakteri penyebab Difteri, Petusis, dan Tetanus. Tubuh bayi atau anak-anak baru memiliki antibodi setelah dilakukan imunisasi sebanyak 3 kali. Berikut ini jadwal pemberian imunisasi dasar untuk bayi atau anak-anak:

  1. Pemberian imunisasi pertama dilakukan saat bayi berumur 2 bulan
  2. Pemberian imunisasi kedua dapat diberikan ketika usia bayi mencapai umur 3 bulan
  3. Pemberian imunisasi ketiga atau yang terakhir dapat diberikan saat bayi berumur 4 bulan

Supaya kekebalan tubuh tetap terjaga, imunisasi ulang harus dilakukan sebanyak dua kali, yaitu:

  1. Berikan imunisasi lanjutan setelah satu tahun pemberian imunisasi dasar yang ketiga
  2. Untuk vaksin lanjutan yang kedua dapat diberikan saat usia anak sudah menginjak usia sekolah yaitu usia 5 tahun.

Untuk setiap anak diberikan dosis sebanyak 0,5 ml yaitu dengan cara intramuscular (dalam otot). Penyuntikan dilakukan pada bagian paha atas dan tidak disarankan pada daerah sekitar bokong.

Manfaat Imunisasi DPT

Pemberian imunisasi bertujuan untuk merangsang kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Sedangkan manfaatnya dari imunisasi ini yaitu untuk memberikan perlindungan kepada bayi atau anak-anak dari serangan penyakit difteri, pertusis dan tetanus pada waktu yang bersamaan. Maka dari itu, pemberian imunisasi harus sesuai jadwal dan jangan sampai terlewatkan agar buah hati Anda mendapat perlindungan yang maksimal.

Efek Samping Imunisasi DPT

Untuk efek samping yang diterima oleh anak-anak sangat bervariasi, tergantung dari kondisi anak itu sendiri. Namun, untuk efek samping yang sering terjadi setelah pemberian imunisasi seperti muncul pembengkakan di sekitar lokasi penyuntikan dan biasanya berwarna merah serta terasa nyeri. Kemudian terjadi demam yang tinggi, sehingga membuat bayi menangis dan rewel. Namun Anda tidak perlu khawatir, karena efek samping tersebut masih dalam kondisi wajar.

Itulah beberapa informasi mengenai imunisasi DPT. Bagi Anda para orang tua jangan sampai lupa untuk melakukan imunisasi secara rutin di posyandu atau pelayanan kesehatan terdekat. Dengan memberikan imunisasi secara rutin berarti Anda telah memberikan kasih sayang dan perlindungan kepada buah hati tercinta.

Pengertian, Jadwal, Manfaat Dan Efek Samping Imunisasi BCG Untuk Bayi

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) merupakan pencegahan bagi penyakit dengan merangsang kekebalan tubuh dengan cara memberikan vaksin atau kuman yang sudah dilemahkan. Selain itu, pemberian imunisasi ini wajib diberikan kepada bayi atau anak-anak agar kekebalan tubuh bayi mampu mencegah resiko penyakit Tuberculosis. Lalu, sebenarnya apa itu imunisasi BCG, manfaatnya, jadwal pemberian dan efek sampingnya?

Pengertian Imunisasi BCG

Imunisasi BCG merupakan salah satu jenis vaksin yang dibuat dari Mycobacterium Bovis atau baksil tuberculosis yang sudah mengalami proses pelemahan bakteri. Menurut penelitian, vaksin ini dapat memberikan antibodi untuk tubuh bayi agar terhindar dari penyaki Tuberculosis dan memberikan efek perlindungan hingga 10 tahun.

Jadwal Imunisasi BCG

Jika Anda ingin memberikan vaksin ini kepada buah Hati, sebaiknya diberikan sejak bayi berusia 2 bulan. Namun, jika bayi yang diberikan sudah berusia di atas 2 bulan, maka harus melakukan beberapa tes seperti tes mantoux atau tuberkulin terlebih dahulu. Hal ini untuk mengetahui apakah anak tersebut sudah terkena kuman Tuberculosis atau belum.

Jika bayi terindikasi sudah tertular kuman, maka harus diberikan pengobatan yang harus dikonsumsi hingga 6 bulan. Untuk pengobatan ini harus selalu dipantau dan tidak boleh lupa untuk mengkonsumsinya.

Manfaat Imunisasi BCG

Banyak yang menganggap bahwa Tuberkulosis (TBC) hanya menyerang paru-paru saja, namun kenyataannya bakteri Mycobacterium Tuberculosis dapat menyerang semua organ tubuh manusia seperti otak, tulang, spinal dan ginjal. Untuk itu, diperlukan upaya pencegahan dengan memberikan vaksin kepada setiap orang yang beresiko terkena penyakit seperti bayi atau anak-anak. Karena hal tersebut dibuatlah vaksin BCG yang memiliki manfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada bayi sehingga mampu menangkal penyakit Tuberculosis.

Efek samping Imunisasi BCG

Untuk efek samping pemberian vaksin yang melalui suntikan ke dalam kulit yang penuh dengan saraf, maka bayi akan rewel setelah imunisasi karena rasa sakit yang ditimbulkan. Selain itu, pada lokasi penyuntikan setelahnya akan mengalami pembengkakan kecil yang berwarna merah, yang kemudian akan muncul nanah dan meninggalkan bekas luka parut. Namun, kadang-kadang juga timbul pembesaran kelenjar getah bening di sekitar ketiak selama 2 sampai 4 bulan setelah imunisasi.

Jika bayi Anda setelah imunisasi mengalami gejala di atas, tidak perlu takut karena efek samping tersebut tidak bahaya. Namun, jika pembengkakan terlalu besar dan tidak sembuh dalam waktu yang lama segera hubungi dan konsultasikan kepada dokter atau petugas kesehatan terdekat.

Itulah beberapa pembahasan mengenai pengertian, jadwal, manfaat dan efek samping imunisasi BCG. Nah, untuk Anda para orang tua yang mempunyai buah hati yang masih bayi, jangan sampai lupa untuk memberikan imunisasi secara rutin di posyandu atau tempat layanan kesehatan. Untuk harganya pun sangat terjangkau, karena vaksin ini mendapat subsidi dari pemerintah dan terkadang ada yang memberikan secara gratis. Dengan memberikan imunisasi sesuai jadwal, berarti Anda telah memberikan kasih sayang dan tanggung jawab untuk melindungi buah hati.

Ketahui Informasi Lengkap Tentang Imunisasi Polio

Anda pernah mendengar penyakit polio? Penyakit ini disebut juga dengan poliomyelitis. Pengertian sederhananya merupakan sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh virus bernama poliovirus. Virus ini dapat menjangkit seseorang dan menyebar satu sama lain melalui tinja yang telah terinfeksi. Selain itu, virusnya juga dapat tersebar melalui makanan-makanan maupun air yang mengandung kotoran manusia. Kadang kala juga bisa menular melalui air liur yang telah terinfeksi.

Oleh karena itu, untuk menghindari penyakit semacam ini, maka perlu diberikan pencegahan dengan pemberian vaksin atau imunisasi. Imunisasi polio adalah imunisasi atau vaksin yang diberikan kepada anak, terutama saat masih bayi. Pemberian vaksin ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu oral atau melalui mulut (OPV) dan dengan cara disuntik (IPV). Manfaat pemberian vaksin ini adalah untuk melindungi tubuh dari infeksi yang dapat mengancam nyawa penderita. Penyakit ini termasuk berbahaya karena mampu membuat sang terjangkit menderita kelumpuhan secara total.

Nah, berikut adalah informasi selengkapnya mengenai penyakit yang menyerang syaraf motorik otak pada manusia ini. Mari kita simak uraiannya.

Jadwal Pemberian Imunisasi Polio Pada Bayi

  1. Sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi atau vaksin secara oral (OPV) diberikan kepada bayi saat usia mereka menginjak 2,4,6, dan 18 bulan (bisa usia 2,3, maupun 4 bulan sesuai dengan program dari pemerintah).
  2. Sedangkan untuk imunisasi atau vaksin yang diberikan dengan cara disuntik (IPV) diberikan kepada bayi yang berusia 2,4,6 sampai dengan 18 bulan. Setelahnya diberikan lagi pada anak saat usia 6 sampai dengan 8 tahun.
  3. Jika imunisasi maupun vaksin yang seharusnya diberikan kepada bayi atau anak mengalami keterlambatan, maka vaksin tidak perlu diulang dari awal. Lanjutkan saja proses pemberian vaksin sesuai dengan jadwalnya. Jadi Anda tidak perlu memperhatikan seberapa lama jarak keterlambatannya. Tinggal lanjutkan saja.

Efek Samping Yang Mungkin Terjadi

Pemberian imunisasi atau vaksin ini biasanya tidak menimbulkan efek samping yang berarti. Namun tetap ada kemungkinan-kemungkinan efek samping yang dapat ditimbulkan. Yakni:

  1. Untuk pemberian imunisasi dengan cara suntik, efek samping yang mungkin terjadi adalah kulit menjadi kemerahan pada area yang disuntik. Selain itu, mungkin saja mengalami rasa nyeri atau bengkak pada area tersebut. Hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, jika keluhannya sudah terlalu lama dan gejalanya tidak segera hilang, maka langsung saja periksakan ke Dokter.
  2. Efek samping yang kedua adalah meningkatnya suhu tubuh atau timbul demam. Efek samping yang satu ini bisa terjadi setelah melakukan imunisasi dengan cara suntik maupun oral. Untuk menurunkan demam bisa dengan meminum paracetamol atau ibuprofen. Dosisnya tentu saja disesuaikan dengan usia sang anak. Dan sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan Dokter.
  3. Efek selanjutnya yang mungkin terjadi adalah alergi berat terhadap vaksin. Pada pemberian vaksin dengan cara oral, bisa terjadi reaksi yakni diare ringan tanpa disertai demam. Namun kedua reaksi ini jarang terjadi. Jika memang terjadi alergi berat, Anda bisa hentikan sementara pemberian vaksin kepada Anak. Lalu konsultasikan dan periksakan kepada Dokter.

Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum pemberian imunisasi polio ini adalah anak Anda harus dalam kondisi sehat. Jangan berikan jika anak Anda sedang mengalami demam, diare, atau memiliki masalah imunitas. Semoga bermanfaat.

Pentingnya Melakukan Imunisasi Hepatitis B Sejak Bayi

Penyakit yang disebut dengan Hepatitis B merupakan sebuah infeksi yang disebabkan oleh sebuah virus dan dapat merusak organ hati. Jika tidak segera ditangani, maka penyakit ini bisa menjadi sebuah komplikasi lebih berat dan berubah menjadi kanker hati. Maka dari itu, pemberian vaksin maupun imunisasi terhadap penyakit ini sangat penting dilakukan sejak bayi.

Imunisasi Hepatitis B sendiri adalah sebuah pemberian vaksin yang dilakukan dengan cara menyuntikkan cairan imunisasi ke dalam tubuh melalui otot paha maupun otot lengan bagian atas. Pemberian imunisasi ini perlu dilakukan karena bermanfaat untuk mencegah penyakit Hepatitis dengan jenis A dan B. Pemberian imunisasi ini manfaatnya akan semakin bertambah jika diberikan pada bayi yang usianya masih di rentang 0-7 hari. Lalu apa sajakah pentingnya dalam pemberian imunisasi ini? Mari kita coba simak info selengkapnya sebagai berikut.

Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B    

  1. Dosis Yang Pertama

 

  • Pemberian vaksinasi monovalen untuk hepatitis jenis B diperuntukkan bagi bayi yang baru saja lahir sebelum pulang dari rumah sakit. Vaksin ini paling baik diberikan dalam kurun waktu 12 jam setelah proses kelahiran.
  • Bagi bayi yang memiliki ibu dengan HBsAg status positif, maka pemberian vaksin tersebut dilakukan dalam kurun waktu 12 jam setelah lahir. Lalu bayi tersebut sebaiknya diperiksa status HBsAg dan anti HBs dalam waktu 1-2 bulan setelah imunisasi yang ketiga.
  • Jika status HBsAg sang ibu tidak dapat diketahui, maka vaksin tersebut juga diberikan dalam waktu 12 setelah lahir. Setelah itu, sebaiknya sang ibu memeriksakan status HBsAg.

 

  1. Dosis Yang Kedua
  • Pada dosis yang kedua, imunisasi atau vaksin diberikan pada usia bayi yang menginjak 1 atau 2 bulan.
  • Vaksin untuk penyakit hepatitis ini sendiri tersedia dalam vaksin monovalen dan vaksin kombinasi. Untuk bayi yang usianya belum sampai 6 minggu, maka menggunakan vaksin monovalen. Sedangkan bayi yang usianya di atas 6 minggu bisa menggunakan vaksin monovalen atau kombinasi.

 

  1. Dosis Yang Ketiga
  • Dosis vaksin yang ketiga ini diberikan kepada bayi yang usianya sudah 6 bulan.
  • Sedangkan bayi yang belum mendapatkan imunisasi hepatitis saat lahir, maka imunisasi harus dilakukan sesegera mungkin dan tetap diberikan 3 dosis.
  • Untuk dosis kedua yang diberikan setelah dosis pertama, setidaknya diberi jarak minimal 4 minggu. Lalu untuk dosis ketiga diberikan jarak minimal 8 minggu setelah dosis kedua, dan minimal 16 minggu setelah dosis yang pertama.
  • Jika vaksin yang diberikan terlambat dari jadwal dosis yang telah ditentukan, maka pemberiannya tetap bisa dilanjutkan, tidak perlu mengulanginya dari dosis yang pertama.

Efek Samping Yang Dialami

  1. Efek samping pertama yang dialami adalah kemungkinan reaksi anafilaksis atau alergi berat. Hal ini dapat terjadi meskipun sangat jarang. Dan tentunya imunisasi atau vaksin tidak boleh diberikan bagi bayi atau orang yang memiliki reaksi alergi berat terhadap vaksin tersebut.
  2. Efek samping yang kedua adalah timbulnya reaksi kecil pada bagian yang disuntik. Reaksi tersebut dapat berupa kulit menjadi kemerahan, rasa nyeri bahkan bengkak.

Penyakit Hepatitis B termasuk penyakit yang cukup berbahaya karena dapat merenggut nyawa sang penderita. Untuk itu, penting melakukan vaksin terhadap penyakit ini sejak bayi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengenali Penyebab Dan Cara Mengatasi Anemia Pada Ibu Hamil

Kehamilan merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang harus dijaga. Namun dalam proses kehamilan, ibu hamil biasanya akan mengalami perubahan-perubahan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini wajar adanya. Tetapi sebagai ibu hamil Anda juga perlu waspada terhadap gangguan yang mampu mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Misalnya saja anemia pada ibu hamil. Penyakit yang satu ini memang rentan menjangkit ibu hamil.

Anemia sendiri perlu diwaspadai karena tubuh akan mengalami kekurangan sel darah merah. Penyakit ini sering menyerang ibu hamil, dikarenakan peningkatan kebutuhan nutrisi untuk memproduksi sel darah merah. Jika dibiarkan tentunya penyakit ini dapat membahayakan ibu dan janinnya. Risiko yang dapat dialami jika membiarkan penyakit ini adalah munculnya komplikasi. Komplikasi tersebut membuat ibu hamil harus melakukan persalinan bayi secara prematur, bahkan bisa mengakibatkan kematian ibu setelah melahirkan.

Untuk mencegah semua hal buruk seperti di atas terjadi, sebaiknya kenalilah penyebab anemia pada ibu hamil dan juga cara mengatasinya. Penjelasan lebih lanjut akan diuraikan di bawah ini.

Jenis Penyebab Anemia Pada Ibu Hamil

  1. Jenis Anemia Defisiensi Besi

Jenis anemia pertama yang dapat menyerang ibu hamil adalah anemia defisiensi besi. Penyakit ini merupakan jenis penyebab anemia paling banyak pada ibu hamil. Dapat diperkirakan sekitar 15% hingga 25% ibu hamil kekurangan zat besi dalam tubuhnya. Padahal zat ini merupakan unsur penting yang berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Sedangkan kebutuhan zat besi pada ibu hamil meningkat karena ada janin di dalamnya. Zat besi ini diperlukan dalam pembentukan sel darah merah ibu dan janin. leh karena itu, unsur zat besi ini haruslah tercukupi agar tidak terserang anemia.

  1. Jenis Anemia Folat

Yang kedua adalah jenis anemia yang diakibatkan kekurangan unsur asam folat. Asam folat merupakan salah satu unsur terpenting dalam masa kehamilan ibu. Asam   folat ini memiliki fungsi dalam membantu mencegah adanya kecacatan saraf pada    janin dalam kandungan. Untuk itu kebutuhannya haruslah tercukupi untuk dapat menutrisi janin.

  1. Anemia Akibat Kekurangan Vitamin B12

Jenis anemia selanjutnya adalah karena kekurangan vitamin B12. Vitamin B12 ini juga merupakan unsur penting yang dibutuhkan oleh ibu hamil. Vitamin ini memiliki peran untuk membantu proses produksi sel darah merah. Kekurangan sel darah merah akan membahayakan keadaan ibu dan janin. Jadi pastikan ibu hamil memiliki cukup nutrisi yang mengandung vitamin B12.

Cara Mengatasi Anemia Saat Hamil

  1. Mengonsumsi Suplemen Yang Mengandung Zat Besi.

Cara pertama dalam mengatasi anemia saat hamil yaitu dengan mengonsumsi  suplemen zat besi. Konsumsilah suplemen ini 2-3 kali sehari.

  1. Tambah Asupan Makanan Yang Mengandung Zat Besi

Selain mengonsumsi suplemen zat besi, ibu hamil tentunya membutuhkan makanan yang juga kaya akan zat besi. Ibu hamil haruslah menerapkan gaya hidup sehat agar nutrisinya terpenuhi. Beberapa makanan yang kaya akan zat besi adalah ikan, daging    merah, ayam, sayuran hijau, kacang-kacangan, telur dan tahu.

  1. Mencukupi Kebutuhan Vitamin C

Vitamin C ini diperlukan agar tubuh bisa menyerap zat besi secara maksimal.  Makanan yang banyak mengandung vitamin C ada pada buah jeruk, kiwi, stroberi dan tomat.

Demikian ulasan mengenai penyebab dan cara mengatasi anemia pada ibu hamil. Ibu hamil harus bisa menjaga nutrisi serta  kesehatan tubuhnya demi janin dalam kandungan. Jangan anggap enteng penyakit yang menyerang ibu hamil karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin.

 

5 Perlengkapan Bayi Baru Lahir dan Tidak Boleh Ditinggalkan

 

Ketika memasuki trimester terakhir, maka sudah saatnya Mom siapkan perlengkapan bayi. Apalagi kalau sudah tahu jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki. Persiapan yang matang lebih menenangkan hati ketika proses persalinan berlangsung. Jadi, begitu lahir, si bayi langsung mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan. Apa saja perlengkapannya?

A. Perlengkapan untuk Kesehatan Bayi

Menjelang kelahiran, perlengkapan ini mutlak disiapkan karena selepas dari rumah sakit langsung diurus sendiri. Sebagai catatan, belilah perlengkapan secukupnya saja. Tidak perlu berlebihan karena kita belum tahu bobot bayi nantinya berapa. Setidaknya sudah sedia payung sebelum hujan. Kalau tidak bisa berangkat sendiri, bisa minta tolong ke suami.

Perlengkapan bayi yang dibutuhkan untuk kesehatannya meliputi termometer untuk memantau suhu badan. Kemudian ada kasa untuk menghalangi nyamuk masuk dan menggigitnya selagi tidur. Alkohol 70% dan betadine juga amat diperlukan ketika tanpa disadari, dia mengalami luka-luka karena suatu hal.

B. Perlengkapan untuk Kebutuhan Tidur Bayi

Efek melahirkan kerapkali membuat seorang ibu mudah kelelahan dan mengantuk. Perjuangan dalam menemani keseharian si kecil membutuhkan usaha yang keras. Beruntungnya, pada momen seperti itu, semangat untuk terus menjaganya selalu tumbuh meskipun tubuh tidak keruan rasanya. Mungkin inilah yang dimaksud kekuatan dari Tuhan.

Sayangnya, penjagaan kerapkali luput ketika malam tiba. Tepatnya ketika sang ibu terserang kantuk. Maka, untuk penjagaan ekstra, siapkan perlengkapan bayi seperti tempat tidur, kasur dan bantal yang tidak terlalu empuk, selimut lembut, dan perlak. Kemudian untuk mewanti-wanti adanya keringat yang menetes di tubuhnya, siapkan kain berdaya serap tinggi.

Keringat yang menempel pada bayi rupanya bisa menjadi hal yang serius ketika dibiarkan. Soalnya sistem kekebalan tubuh si bayi belum tumbuh secara maksimal. Sedangkan bakteri dan kuman suka sekali memanfaatkan keringat sebagai jalan masuk. Dengan adanya kain tersebut, bayi Mom akan selalu kering sepanjang malam.

C. Sediakan pula Perlengkapan untuk Mandi

Perlengkapan bayi ini wajib ada dan bisa diwakilkan pada seseorang jelang melahirkan. Sederhana saja. Mulai dari bak mandi, sabun mandi batangan/cair, tisu basah, gunting kuku, kapas, handuk, bedak, perlak atau alas untuk ganti pakaian, dan lain-lain yang diperlukan. Bila perlu, beli pula pelampung untuk menjaga kesehatan jantungnya.

D. Perlengkapan untuk Berpakaian

Sebelum beli perlengkapan ini, beli dulu tempat yang bersih dan steril bila perlu. Pakaian yang kelak dikenakan ke tubuhnya akan terus menempel seharian. Sayang sekali kalau sampai mudah kotor sehingga kuman jahat bisa kapan saja ikut menempel. Lindungi pula dengan bau-bauan yang membuat hewan lain menjauh, misalnya seperti kamper.

Setelah itu, baru siapkan perlengkapan bayi ini seperti setelan baju berlengan panjang, atasan berlengan pendek, popok, kaus tangan & kaki, celana dengan penutup bagian bawah, dan lain-lain. Untuk melindungi dari sinar matahari ataupun cuaca ekstrem di malam hari, sediakan topi hangat.

E. Sediakan Perlengkapan untuk Bepergian

Cukup banyak daftar perlengkapan untuk bayi baru lahir yang dijual dengan harga murah. Khusus untuk kebutuhan seperti bepergian, sediakan gendongan bayi silang. Kemudian sediakan pula tas yang berukuran sedang sebagai tempat pakaian bayi. Siapa tahu di perjalanan dia buang air sehingga mau tidak mau wajib diganti.

Ada perlengkapan bayi yang bersifat temporer, ada pula yang bisa digunakan dalam waktu lama. Keduanya dipilah berdasarkan fungsinya untuk memudahkan penerapannya sehari-hari. Kenapa perlengkapan tersebut tidak boleh ditinggalkan? Soalnya untuk kebutuhan secara umum. Sedang kebutuhan khusus seperti musik klasik, lebih bersifat opsional.