Pentingnya Vaksin HPV Bagi Anak-Anak Dan Wanita

Vaksin HPV digunakan untuk mencegah kanker serviks dengan cara memberikan vaksin yang dapat merangsang sistem kekebalan tubuh supaya mampu memproduksi antibodi yang berguna melawan human papiloma. Human papiloma merupakan virus yang mampu menginfeksi sel penyebab kanker leher rahim. Kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang banyak membunuh wanita di Indonesia. Untuk itu, bagi para wanita wajib melakukan vaksinasi agar terhindar dari resiko kanker serviks.

Agar lebih jelas lagi, berikut ini penjelasannya tentang pengertian, manfaat, jadwal dan efek samping dari vaksin HPV.

Pengertian Vaksin HPV

Vaksin HPV terdiri atas dua buah vaksin yaitu gardasil dan cervarix. Vaksin gardasil adalah vaksin yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari empat jenis virus yaitu 6, 11, 16, dan 18. Sedangkan vaksin cervarix atau sering disebut bivalen adalah vaksin yang digunakan untuk pencegahan jenis virus tipe 16 dan 18.

Jadwal Pemberian Vaksin HPV

Bagi Anda khususnya wanita, sebaiknya melakukan pencegah kanker serviks sejak dini. Untuk jadwal pemberian vaksin ini dibagi menjadi dua yaitu vaksin gardasil yang diberikan sebanyak tiga suntikan pada jaringan otot selama 6 bulan. Selain itu vaksin gardasil juga disarankan untuk laki-laki sebagai pencegahan kanker dubur dan lesi prakanker dubur. Sedangkan pemberian vaksin cervarix dapat diberikan sebanyak tiga dosis dalam jangka waktu 6 bulan. Cervarix digunakan pada anak-anak dan wanita pada usia 9 sampai 25 tahun karena hanya digunakan untuk mencegah kanker serviks yang disebabkan virus tipe 16 dan 18.

Manfaat Vaksin HPV

Pemberian vaksin HPV kepada anak-anak maupun wanita memiliki manfaat yang positif yaitu mampu memberikan perlindungan bagi tubuh yang akan terserang virus tipe 16 sampai 18 hingga 8 tahun. Selain itu, melakukan vaksinasi dapat mengurangi resiko terkena kanker rahim.

Efek Samping Vaksin HPV

Untuk efek samping dari pemberian vaksin ini tergolong ringan, karena setelah pemberian hanya terasa nyeri dan kemerahan pada bekas suntikan. Namun, bagi Anda yang memiliki alergi yang sangat sensitif bisa menyebabkan pingsan dan pembekuan darah balik, tapi untuk efek samping ini jarang terjadi. Untuk mengatasi efek samping yang berlebih ini, biasanya pasien akan disuruh duduk terlebih dahulu selama 15 menit setelah penyuntikan vaksin.

Namun, bagi wanita hamil tidak diperbolehkan menggunakan vaksin ini karena belum adanya penelitian tentang efek samping yang ditimbulkan. Selain itu, tubuh harus dalam keadaan sehat dan sebaiknya dilakukan penundaan jika kondisi tubuh tidak sehat.

Selain melakukan vaksinasi, Anda dapat melakukan pencegah kanker serviks dengan cara melakukan pemeriksaan pap test (skrining) secara rutin yaitu setiap 3 tahun. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jika terjadi perubahan jaringan leher rahim dapat terdeteksi sejak awal.

Demikian informasi mengenai Vaksin HPV yang perlu Anda ketahui. Semoga dengan informasi ini, Anda dapat melakukan pencegahan dari penyakit kanker serviks.

Perlukah Imunisasi Varisela Bagi Tubuh? Apa Efek Sampingnya?

Varisela atau Chickenpox merupakan nama lain dari penyakit cacar air. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh, munculnya ruam-ruam menyerupai bintil melepuh yang berisi cairan dan akan pecah pada waktunya. Penyakit cacar air ini biasanya menyerang seseorang saat masih anak-anak, namun juga memungkinkan terjadi pada usia dewasa. Oleh karena itu, agar terhindar dari penyakit ini maka diharapkan melakukan imunisasi Varisela.

Pengertian Imunisasi Varisela

Imunisasi Varisela atau yang biasa disebut dengan imunisasi cacar air merupakan imunisasi yang diberikan untuk melindungi tubuh agar terhindar dari penyakit cacar air. Satu dosis imunisasi cacar air ini dapat mencegah hingga 95% penyakit sedang dan 100% penyakit berat. Meskipun cacar air dapat sembuh dengan sendirinya, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi serangan varisela yang berulang jika seseorang memiliki penurunan daya tahan tubuh.

Cara untuk mencegah cacar air untuk seseorang yang tidak memiliki kekebalan VVZ adalah dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita cacar air. Selain itu, bisa juga dengan melakukan vaksin Varicella-Zoaster. Vaksin ini merupakan vaksin yang harus diberikan ketika seseorang dalam keadaan sehat dan termasuk vaksin hidup.

Jadwal Imunisasi Varisela

Imunisasi Varisela diberikan kepada anak yang sudah berusia lebih dari 12 bulan dengan 1 kali suntikan. Namun, jika usia anak sudah menginjak di atas 12 tahun, maka imunisasi ini harus diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak waktu penyuntikan 1 sampai 2 bulan. Cara penyuntikannya yaitu dengan menggunakan jarum suntik kecil yang dimasukkan ke dalam lemak (subkutan). Vaksin Varisela sendiri terdiri dari beberapa merek yaitu Varivak, Okavak dan Varilik.

Manfaat Imunisasi Varisela

Manfaat diberikannya imunisasi Varisela pada anak adalah untuk mencegah terjadinya penyakit cacar air yang disebabkan adanya virus Varisela. Jika pemberian imunisasi ini diberikan pada seseorang saat masih bayi, maka akan memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik terhadap serangan berbagai macam penyakit.

Efek Samping Imunisasi Varisela

Efek samping yang ditimbulkan setelah melakukan imunisasi Varisela dapat dirasakan oleh beberapa orang. Efek samping tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Nyeri atau bengkak pada bekas suntikan
  2. Demam
  3. Ruam ringan pada bekas suntikan
  4. Kejang yang disebabkan karena demam
  5. Dan masalah berat seperti radang paru-paru (sangat jarang terjadi)

Selain itu, setelah melakukan imunisasi Varisela biasanya akan muncul bintik-bintik cacar yang jumlahnya tidaklah banyak. Jika mengalami gejala tersebut, janganlah khawatir karena ini hanyalah bagian dari reaksi tubuh terhadap pemberian imunisasi Varisela. Gejala ini juga tidak perlu diobati dan juga tidak akan menular pada orang lain.

Jika Anda orang tua yang memiliki akan, segeralah lakukan imunisasi Varisela kepada anak Anda, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Namun, alangkah lebih baik jika sebelumnya Anda mengkonsultasikannya terlebih dahulu ke dokter mengenai waktu yang tepat untuk memberikan imunisasi tersebut.

Imunisasi Hepatitis A Penting Untuk Kesehatan Tubuh

Hepatitis A merupakan salah satu virus yang menyebar secara fecal-oral atau perpindahan virus dari bahan yang terkontaminasi feses atau juga tinja dari si penderita ke mulut orang yang sehat. Tinja tersebut bisa saja berada dan terbawa di dalam makanan, air atau benda-benda tertentu karena proses pengolahan makanan dan minuman tidak memperhatikan tingkat kebersihan. Nah untuk mencegahnya, maka diperlukan pemberian imunisasi Hepatitis A.

Pengertian Imunisasi Hepatitis A

Imunisasi Hepatitis A merupakan salah satu jenis imunisasi yang berisi virus Hepatitis A yang tidak aktif. Pemberian imunisasi ini juga untuk merangsang tubuh agar bisa membuat antibodi sehingga terbentuk kekebalan aktif. Imunisasi ini sangat efektif dilakukan untuk mencegah penyakit Hepatitis A sebesar 94% – 100% jika diberikan sebanyak dua kali vaksinasi. Imunisasi ini juga bisa diberikan bersamaan dengan imunisasi yang lain.

Imunisasi Hepatitis A dibagi menjadi 3 jenis, di antaranya imunisasi kombinasi Hepatitis A dan B, imunisasi kombinasi Hepatitis A dan tifus serta imunisasi Hepatitis A. Di Indonesia, imunisasi yang sering diberikan adalah Hepatitis A dan imunisasi kombinasi Hepatitis A dan B. Namun, jika Anda ingin melakukan imunisasi ini sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter untuk mengetahui imunisasi mana yang Anda butuhkan.

Jadwal Imunisasi Hepatitis A

Imunisasi Hepatitis A diberikan dalam dua kali suntikan dan dengan jarak waktu sekitar 6 – 12 bulan. Imunisasi ini tidak dianjurkan diberikan untuk anak yang berusia di bawah 1 tahun, namun penelitian menunjukkan bahwa anak yang berusia di atas 6 bulan dan tidak memiliki alergi terhadap isi vaksin ini, bisa diberikan imunisasi Hepatitis A.  untuk seseorang yang ingin bepergian ke wilayah yang beresiko terjangkit Hepatitis A, maka sebaiknya merencanakan pemberian imunisasi 6 bulan sebelum bepergian. Namun, akan lebih baik jika imunisasi dilakukan 1 bulan sebelum bepergian.

Manfaat Imunisasi Hepatitis A

Manfaat dari pemberian imunisasi Hepatitis A yaitu untuk mencegah terjangkitnya penyakit Hepatitis A yang menyebabkan infeksi pada organ hati. Untuk itu, langkah terbaik untuk mencegah terjadinya penyakit ini yaitu dengan melakukan imunisasi Hepatitis A sejak usia dini.

Efek Samping Imunisasi Hepatitis A

Sama seperti imunisasi-imunisasi lainnya, imunisasi Hepatitis A juga bisa menyebabkan efek samping bagi penggunanya. Namun, kemungkinan efek samping yang ditimbulkan oleh imunisasi ini sangatlah kecil terjadi. Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah melakukan imunisasi Hepatitis A antara lain sebagai berikut:

  1. Nyeri pada daerah bekas suntikan
  2. Nyeri kepala
  3. Hilangnya nafsu makan
  4. Merasa lelah

Gejala efek samping tersebut biasanya hanya berlangsung sekitar 1 sampai 2 hari. Namun selain efek samping ringan seperti di atas, pemberian imunisasi Hepatitis A juga bisa menyebabkan efek samping berat yaitu alergi berat yang akan berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam saja setelah melakukan imunisasi.

Demikian informasi tentang imunisasi Hepatitis A yang penting bagi kesehatan. Jika mengalami efek samping berat yang tidak kunjung sembuh setelah pemberian imunisasi, segera periksakan ke dokter untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.

Pentingnya Imunisasi Tifoid Untuk Kesehatan

Tifoid merupakan salah satu penyakit demam yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Demam ini bisa menyebabkan gejala badan terasa lemas, demam tinggi, nyeri ulu hati, berkurangnya nafsu makan, nyeri kepala dan timbulnya bercak merah pada kulit. Jika tidak segera ditangani dan diobati, maka penyakit ini bisa saja menimbulkan kematian pada si penderita. Nah, untuk menghindari hal tersebut maka perlu dilakukan imunisasi Tifoid.

Pengertian Imunisasi Tifoid

Imunisasi Tifoid adalah salah satu imunisasi untuk mencegah penyakit tifus. Imunisasi ini menjadi salah satu imunisasi yang dianjurkan, namun tidak diwajibkan oleh pemerintah. Sama seperti vaksi yang lain, vaksin Tifoid tidak memberikan perlindungan pada anak 100 %. Sebab, anak yang sudah diberikan imunisasi Tifoid tetap masih bisa terinfeksi. Akan tetapi, tingkat infeksi yang dialami anak yang sudah diimunisasi tidaklah seberat pada anak yang belum diimunisasi Tifoid. Selain pada anak-anak, imunisasi ini juga sangat dianjurkan untuk orang-orang yang ingin bekerja ataupun bepergian ke daerah yang sedang dilanda penyebaran penyakit tifus.

Jadwal Imunisasi Tifoid

Pada dasarnya, imunisasi Tifoid tidak rutin diberikan seperti halnya imunisasi polio atau hepatitis B yang harus diberikan pada seseorang saat masih bayi. Imunisasi Tifoid diberikan pada beberapa keadaan seperti di bawah ini:

  1. Orang yang ingin bepergian ke daerah yang sedang rawan infeksi Tifoid
  2. Orang yang melakukan kontak dengan penderita Tifoid
  3. Petugas kesehatan

Imunisasi Tifoid terdiri dari dua jenis, yaitu imunisasi inaktif (suntikan dan imunisasi oral (vaksin yang berisi virus yang telah dilemahkan). imunisasi inaktif tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Imunisasi ini sendiri tersedia dalam bentuk suntikan dosis tunggal dan alangkah lebih baik jika vaksin ini diberikan 2 minggu sebelum bepergian. Untuk pemberian imunisasinya sendiri, biasanya dilakukan atau diulang setiap 2 tahun sekali.

Sedangkan imunisasi Tifoid oral tidak dianjurkan diberikan pada anak yang masih berusia di bawah 6 tahun. Imunisasi ini diberikan dalam 4 dosis dan setiap dosisnya diberikan dalam jarak waktu 2 hari. Namun, untuk dosis yang terakhir sebaiknya diberikan 1 minggu sebelum bepergian. Selain itu, pemberian imunisasi ini juga harus diulang setiap 5 tahun dan dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi yang lain. namun, sebaiknya imunisasi Tifoid oral ini tidak diberikan selama 24 jam setelah seseorang mengkonsumsi antibiotik tertentu.

Manfaat Imunisasi Tifoid

Manfaat imunisasi Tifoid di antaranya adalah mencegah sepertiga sampai setengah dari keseluruhan kasus demam tifoid pada 2 tahun pertama setelah dilakukan imunisasi. Oleh Karena itu, jika seseorang melakukan imunisasi ini, maka ia akan memiliki resiko kecil untuk terjangkit penyakit tifus.

Efek Samping Imunisasi Tifoid

Beberapa orang mungkin akan mengalami efek samping setelah melakukan imunisasi Tifoid. Namun, untuk resiko kematian atau gangguan kesehatan berat akibat imunisasi ini sangtalah kecil. Biasanya, seseorang yang diberikan imunisasi Tifoid inaktif akan mengalami efek samping seperti demam, nyeri kepala, dan adanya bercak merah pada bekas suntikan. Sedangkan untuk imunisasi Tifoid oral, biasanya akan muncul efek samping seperti nyeri kepala, demam, mual, muntah, perut terasa tidak nyaman dan adanya bercak merah pada kulit.

Namun, jika Anda mengalami berbagai gejala berat seperti demam tinggi, perubahan perilaku, sesak napas, muncul banyak bercak merah yang banyak yang menonjol pada kulit, kulit pucat, badan lemah, denyut jantung meningkat dan pusing, maka segeralah periksakan ke dokter untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah mengetahui informasi tentang imunisasi Tifoid, apakah Anda sudah paham tentang pentingnya imunisasi ini untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit tifus? Oleh karena itu, jangan lupa untuk melakukan imunisasi jika dirasa imunisasi ini penting untuk Anda.

Inilah Pengertian Imunisasi MMR Beserta Jadwal, Manfaat Dan Efek Sampingnya

Imunisasi MMR merupakan salah satu jenis vaksin dilakukan kepada bayi untuk mencegah penyakit campaka, rubella dan gondongan. Imunisasi ini juga termasuk gabungan vaksin yang cukup efektif dan aman dalam mencegah penyakit campak, rubella dan gondongan. Imunisasi ini hanya diberikan dalam dua kali sesi penyuntikan untuk dosis penuh. Dalam suntikan ini terdapat virus yang sudah dilemahkan dari ke tiga penyakit tersebut.

Pengertian Imunisasi MMR

Imunisasi MMR merupakan salah satu imunisasi yang dianjurkan untuk diberikan. Meskipun imunisasi ini tidak termasuk ke dalam program imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah, namun imunisasi ini dianjurkan untuk diberikan kepada bayi atau anak-anak. MMR sendiri merupakan singkatan dari tiga penyakit yaitu Mumps (gondong), Measles (campak) dan Rubella (campak Jerman). Oleh karena itu, vaksin yang diberikan dalam imunisasi ini terdiri dari kombinasi ke tiga penyakit tersebut.

Jadwal Imunisasi MMR

Imunisasi MMR diberikan pada anak ketika berusia antara 15 sampai 18 bulan. Selanjutnya, diberikan imunisasi tambahan saat anak menginjak usia 6 tahun. Selain itu, imunisasi ini diberikan dengan jarak pemberian minimal selama 6 bulan setelah pemberian imunisasi dasar campak dan minimal 1 bulan sebelum diberikan imunisasi lain. Jika pada saat usia antara 15 sampai 18 bulan dan si anak sudah diberikan imunisasi MMR dan imunisasi tambahan MMR saat berusia 6 tahun, maka pemberian imunisasi dasar campak tambahan tidak perlu diberikan lagi.

Manfaat Imunisasi MMR

Imunisasi MMR diberikan untuk merangsang terbentuknya imunitas tubuh atau kekebalan terhadap penyakit gondong, campak dan campak Jerman. Gondong yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang bisa menyebabkan demam, sakit kepala, nyeri sendi, dan pembengkakan pada kelenjar parotis yang ada di bawah telinga. Campak adalah suatu penyakit yang dipicu oleh virus yang bisa menyebabkan demam, batuk , nyeri sendi, pilek, mata merah dan bercak-bercak merah pada kulit. Sedangkan campak Jerman yaitu suatu penyakit yang diakibatkan oleh virus yang bisa menyebabkan nyeri sendi, demam, batuk, pilek dan bercak-bercak merah pada kulit. Untuk menghindari ke tiga penyaki tersebut, maka perlu dilakukan imunisasi MMR, karena manfaat imunisasi MMR itu sendiri adalah untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit gondong, campak dan campak Jerman pada saat yang bersamaan.

Efek Samping Imunisasi MMR

Pemberian imunisasi MMR pada umumnya memiliki beberapa efek samping bagi tubuh. Beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah imunisasi antara lain sebagai berikut:

  1. Pembengkakan kelenjar
  2. Kejang-kejang
  3. Demam
  4. Sendi kaku atau nyeri sendi
  5. Ensefalitis atau radang otak
  6. Pendarahan atau jumlah trombosit rendah
  7. Terjadinya penyakit gondong yang hanya berlangsung sekitar dua hari dan tidak akan menular
  8. Timbulnya campak ringan yang tidak menular dan berlangsung sekitar tiga hari

Untuk menghindari efek samping di atas, maka sebisa mungkin anak dilakukan imunisasi MMR pada saat masih usia dini. Sebab, semakin bertambahnya usia resiko terkena efek samping tersebut dapat meningkat.

Itulah informasi mengenai imunisasi MMR. Perlu diketahui bahwa ada beberapa anak yang alergi terhadap imunisasi MMR ataupun obat yang terkandung di dalamnya. Jika anak Anda alergi terhadap imunisasi ini, maka lebih baik hindari melakukan imunisasi karena dapat membahayakan bagi tubuh anak.

Pemberian Vaksin Influenza Yang Ternyata Penting Dan Dibutuhkan Manusia

Seperti yang kita tahu, penyakit influenza atau yang lebih dikenal dengan flu merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi berat yang menyerang saluran pernapasan. Infeksi flu ini biasanya mudah menular melalui udara maupun air liur yang sudah terinfeksi. Virus flu ini sendiri memiliki dua subtipe, yakni subtipe A dan B.

Untuk mencegah terjangkit virus flu ini, salah satu solusinya adalah dengan pemberian vaksin. Vaksin influenza merupakan sebuah imunisasi yang diberikan untuk menumbuhkan sistem antibodi yang dapat menangkal virus flu tersebut. Vaksin ini sangat bermanfaat karena merupakan perlindungan terbaik terhadap penyakit flu, terutama pada musim pancaroba yang rentan muncul penyakit ini. Oleh karena itu, mari kita simak bersama informasi selengkapnya mengenai pemberian vaksin yang ampuh untuk perlindungan terhadap flu.

Informasi Lengkap Tentang Virus Influenza

  1. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini berbeda pada setiap orang. Meskipun orang merasa badannya sehat, namun ternyata bisa saja dirinya sedang terserang flu dan menularkannya kepada orang lain. Pemberian vaksin flu ini sangat bermanfaat guna meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkan akibat virus flu. Dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri menyarankan pemberian vaksin kepada bayi dengan usia di atas 6 bulan.
  2. Tipe vaksin flu ini terbagi menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah vaksin flu trivalent, yakni sebuah vaksin yang mengandung 2 virus flu tipe A (H1N1 dan H3N2) serta satu virus tipe B. Sedangkan yang kedua adalah vaksin quadrivalent, yakni vaksin yang mengandung 2 virus tipe A dan 2 virus tipe B.
  3. Jadwal pemberian vaksin :
  • Vaksin dengan jenis trivalent ini diberikan dengan cara disuntikkan ke bagian tubuh. Namun bisa juga dengan menggunakan jet injector untuk orang dewasa dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun. Sedangkan dosis yang tertinggi bisa diberikan kepada lansia yang berusia lebih dari 65 tahun. Kemudian vaksin suntik yang diberikan kandungan tambahan juga diperuntukkan bagi lansia lebih dari 65 tahun. Dan suntikan vaksin trivalent bebas telur diperuntukkan bagi orang dewasa di atas usia 18 tahun.
  • Yang kedua adalah suntikan dengan vaksin quadrivalent. Vaksin ini hanya diberikan pada golongan usia tertentu. Suntikan vaksin quadrivalent intradermal, yakni suntikan pada jaringan kulit, diberikan kepada orang dewasa dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun. Sedangkan vaksin quadrivalent yang mengandung virus dari pertumbuhan kultur sel diberikan kepada anak-anak usia di atas 4 tahun.
  • Vaksin flu hidup juga tersedia dengan penggunaan yang diberikan dalam bentuk semprotan pada hidung. Vaksin jenis ini dapat diberikan pada orang dalam kondisi sehat dari usia 2 – 49 tahun.

 

  1. WHO sendiri merekomendasikan pemberian vaksin flu ini kepada orang-orang yang paling rentan terkena penyakit flu. Yakni anak yang berusia 6 bulan hingga 5 tahun, lansia lebih dari 65 tahun, wanita yang sedang hamil, para penderita penyakit kronis, dan pekerja di bidang medis.
  2. Ada beberapa efek samping yang bisa ditimbulkan setelah pemberian vaksin flu ini. Yaitu rasa nyeri atau bengkak pada area yang disuntik, demam, mual, sesak napas, suara yang serak, jantung berdebar, mual dan sebagainya. Efek samping-efek samping tersebut cenderung jarang dialami, dan jika mengalaminya pun gejalanya ringan lalu berangsur-angsur akan hilang.

Demikian beberapa info yang bisa disajikan mengenai vaksin influenza. Penyakit flu ini seringkali diremehkan karena masyarakat masih menganggapnya sebagai penyakit ringan. Namun kita tetap harus waspada karena jika tidak segera ditangani, bisa membahayakan kondisi sang penderita.

Mari Kenali Pentingnya Pemberian Vaksin Rotavirus

Infeksi rotavirus adalah sebuah virus yang mampu menyebabkan penyakit muntah dan juga diare pada bayi. Muntah dan diare yang diakibatkan oleh virus ini dapat menjadi sebuah komplikasi yang berat dan dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi tentunya sangat berbahaya terutama untuk bayi, karena akan mengalami kekurangan cairan pada tubuhnya.

Salah satu cara untuk mencegah penyakit yang cukup berbahaya bagi bayi tersebut adalah dengan pemberian vaksin. Pemberian vaksin ini sangat bermanfaat agar tubuh bayi terlindungi dari infeksi rotavirus yang berat. Vaksin ini pun juga cukup efektif dalam mencegah datangnya infeksi. Berikut informasi selengkapnya mengenai pemberian vaksin atau imunisasi tersebut.

Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Vaksin Rotavirus

  1. Jadwal Pemberian Vaksin

Vaksin atau imunisasi ini diberikan secara berkala sebanyak 2 – 3 dosis, bergantung pada jenis vaksin yang diberikan. Vaksin ini sendiri memiliki 2 jenis yang efektivitasnya hampir sama, yaitu Rotarix (RV1) dan Rotateq (RV5). Jadwal pemberiannya adalah sebagai berikut :

  • Jika vaksin yang diberikan adalah jenis RV1, maka imunisasi yang dilakukan adalah sebanyak 2 kali. Dosis pertama diberikan pada bayi yang berusia 2 bulan. Sedangkan dosis kedua diberikan pada bayi dengan usia 4 bulan.
  • Jika vaksin yang diberikan adalah jenis RV5, maka imunisasi akan dilakukan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan pada bayi dengan usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan pada bayi yang berusia 4 bulan. Sedangkan dosis ketiga diberikan pada bayi yang berusia 6 bulan.
  • Vaksin dosis pertama sebaiknya tidak diberikan pada bayi dengan usia lebih dari 15 minggu, karena belum tercantum data keamanan bagi bayi jika diberikan vaksin pada usia tersebut. Jangan pula berikan vaksin pada bayi dengan usia lebih dari 32 minggu, karena belum ada pula data yang menyatakan tentang kefektivan pemberian vaksin pada usia tersebut.
  • Vaksin atau imunisasi ini dapat diberikan pada bayi yang sedang menyusui. Sudah terbukti efektivitasnya yang sama antara bayi yang menyusui dengan bayi yang tidak diberikan ASI.
  • Vaksin ini juga dapat diberikan pada bayi yang mengalami penyakit ringan sementara. Jika penyakitnya termasuk berat, maka tidak disarankan untuk melakukan proses vaksinasi.

 

  1. Perbedaan Kedua Jenis Vaksin

Kedua vaksin yang diberikan kepada bayi yakni RV1 dan RV5 memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada komposisi vaksin. Pada vaksin RV5 komposisinya terdiri dari 5 jenis virus re-assortant berasal dari sapi dan manusia. Sedangkan vaksin RV1 mengandung satu jenis virus yang berasal dari manusia.

 

  1. Pemberian Bersamaan Dengan Vaksinansi Lain

Vaksin ini dapat diberikan secara bersamaan dengan vaksinasi lainnya seperti vaksin DtaP, vaksin HiB, vaksin IPV, vaksin Hepatitis B, dan juga vaksin PCV. Hal ini telah terbukti bahwa tidak terjadi gangguan dengan pemberian vaksin-vaksin tersebut secara bersamaan.

  1. Cara Pemberian Vaksin

Vaksin ini berbentuk cairan yang proses pemberiannya dapat dilakukan melalui mulut atau dengan cara ditelan.

  1. Efek Yang Ditimbulkan Setelah Pemberian Vaksin

Umumnya, setelah pemberian vaksin ini tidak terjadi efek samping-efek samping yang berarti. Akan tetapi, sebagian bayi mungkin saja akan mendapatkan efek samping ringan seperti muntah maupun diare ringan untuk sementara waktu.

Itulah beberapa informasi penting yang patut Anda ketahui mengenai vaksin rotavirus. Kita perlu memperhatikan segala jenis pencegahan terhadap berbagai penyakit pada bayi karena bayi memiliki tubuh yang rentan. Semoga informasi tersebut bermanfaat.

Lakukan Vaksin PCV Untuk Menghindari Penyakit Berbahaya

Vaksin PCV atau yang disebut dengan vaksin pneumokokus merupakan sebuah pemberian imunisasi yang berguna untuk melindungi tubuh dari bakteri pneumokokus. Bakteri yang menginfeksi ini bernama Streptococcus pneumoniae yang mampu menyebabkan penyakit-penyakit berbahaya seperti pneumonia, meningitis, hingga septikemia. Akibat yang paling berat dari terinfeksinya bakteri ini adalah kerusakan secara permanen pada otak, bahkan kematian.

Pemberian imunisasi ini memiliki tujuan untuk merangsang tubuh membentuk antibodi  terhadap infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae yang bisa ditularkan melalui udara bebas. Sedangkan manfaat imunisasi adalah untuk memberikan sebuah perlindungan pada tubuh terhadap penyakit Invasive Peumococcal Diseases (IPD) seperti yang telah disebutkan di atas. Penyakit dalam jajaran IPD ini sangat berbahaya karena dapat menyebar melalui pembuluh darah.

Untuk mengetahui informasi lengkap tentang imunisasi ini, mari kita simak penjelasannya berikut.

Kumpulan Informasi Tentang Imunisasi PCV

  1. Kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae ini diperkirakan lebih tinggi tingkat terjangkitnya pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan jangkauan pemberian vaksin masih rendah. Oleh karenanya, untuk mencegah timbulnya penyakit-penyakit berbahaya, Departemen Kesehatan Indonesia dan WHO memberikan anjuran pemberian vaksin pneumokokus.
  2. Vaksin yang dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit berbahaya ini terdiri dari dua jenis. Yakni Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan juga Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV). Jadwal pemberian vaksin adalah sebagai berikut :
  • Vaksin pneumokokus pada bayi diberikan sebanyak 4 kali atau 4 dosis. Dosis pertama diberikan pada bayi yang berusia 2 bulan. Dosis kedua diberikan pada bayi yang menginjak usia 4 bulan, dosis ketiga diberikan lagi pada bayi berusia 6 bulan, dan dosis terakhir diberikan pada bayi dengan usia antara 12 hingga 15 bulan.
  • Sedangkan jika anak tidak mendapatkan vaksin tepat waktu atau mengalami keterlambatan, maka tetap diberikan vaksin sesuai dengan usianya saat itu. Untuk informasi lebih jelasnya Anda bisa menanyakan pada Dokter tentang keterlambatan pemberian vaksin tersebut.
  • Jika anak pada rentang usia 2-4 tahun belum mendapatkan vaksin pneumokokus secara lengkap, maka perlu diberikan lagi satu dosis vaksin.
  • Ada juga vaksin pneumokokus yang diberikan kepada orang dewasa, yakni vaksin PPV. Vaksin ini akan melindungi diri dari 23 jenis bakteri yang bisa menjangkit.
  • Orang yang sudah lanjut usia dengan umur lebih dari 65 tahun juga disarankan untuk mendapatkan satu dosis vaksin PPV yang berguna untuk melindunginya seumur hidup.
  • Orang dewasa yang menderita penyakit kronis maupun perokok pun juga perlu mendapatkan vaksin PPV selama 5 tahunan atau satu kali saja, tergantung dengan jenis penyakitnya.
  1. Cara pemberian vaksin ini adalah dengan cara menyuntikkannya pada bagian tubuh secara intramuskular. Vaksin ini dikemas dengan bentuk prefilled syringe dan memiliki dosis sebanyak 5 ml.
  2. Efek samping yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin adalah :
  • Rasa tak nyaman dan juga kulit kemerahan pada bagian yang disuntik.
  • Rasa nyeri ringan hingga berat dan juga pembengkakan pada area yang disuntik.
  • Beberapa anak pernah mengatakan bahwa mengalami rasa kantuk setelah diberikan vaksin.
  • Demam yang ringan sampai dengan tinggi.
  • Timbul reaksi alergi berat, namun kasus ini sangat jarang terjadi.

Berdasarkan informasi-informasi di atas, pemberian vaksin PCV ini tentu sangat penting untuk dilakukan. Karena jika sudah terjangkit, akan menimbulkan komplikasi berat pada penderita. Semoga informasi tersebut bermanfaat.

 

Fakta-Fakta Penting Mengenai HiB

HiB atau kependekan dari Haemophilus influenzae type B merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami beberapa penyakit serius. Bakteri ini termasuk dalam golongan dari bakteri Haemophilus influenzae. Bakteri ini biasanya menginfeksi anak-anak di bawah usia 5 tahun. Namun tak dapat dipungkiri pula orang dewasa dapat terjangkit penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai HiB, maka berikut akan disajikan beberapa fakta mengenai virus tersebut. Yuk, simak saja uraiannya di bawah ini.

Fakta-fakta Penting HiB

  1. Penyakit-Penyakit Yang Mungkin Ditimbulkan
  • Meningitis

Penyakit meningitis merupakan sebuah infeksi yang menjangkit selaput pelindung otak manusia dan juga saraf tulang belakang. Meningitis merupakan penyakit yang paling berbahaya yang dapat ditimbulkan akibat terjangkit bakteri Haemophilus influenzae type B tersebut. Risiko paling berat dari penyakit meningitis adalah kematian. Tapi jika masih bertahan hidup, maka penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan otak secara permanen, tuli, penghambatan pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak, dan juga kejang-kejang.

  • Epiglotitis

Penyakit ini merupakan sebuah infeksi yang menyerang katup pintu masuk pada tenggorokan atau epiglotis. Gejala yang ditimbulkan penyakit ini adalah rasa nyeri di tenggorokan sehingga mengalami kesulitan saat menelan, demam, suara menjadi serak, napas yang tidak teratur, dan keluarnya air liur.

  • Pneumonia

Penyakit yang satu ini disebut juga dengan infeksi atau radang paru-paru. Gejala yang ditimbulkan adalah napas yang sesak, nyeri pada dada, munculnya demam, batuk, dan juga kesulitan untuk minum bagi bayi atau anak.

  1. Proses Penyebaran Penyakit

Haemophilus influenzae type B ini dapat menyebar ketika orang yang terjangkit mengalami batuk atau bersin. Bakteri ini biasanya tinggal di hidung dan juga tenggorokan orang yang terjangkit. Selain itu, penyebarannya akan efektif di antara anggota keluarga dan juga tempat pusat penitipan anak.

 

  1. Cara Pencegahan Penyakit Adalah Dengan Pemberian Imunisasi Atau Vaksin

Pengertian vaksin dari Haemophilus influenzae type B ini adalah pemberian imunisasi   yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara penyuntikan pada bagian paha. Vaksin ini bermanfaat untuk mencegah terjangkit penyakit-penyakit berbahaya seperti di atas.

 

  1. Siapa Sajakah Yang Memerlukan Vaksin?

Vaksin ini sangat disarankan untuk diberikan kepada semua anak yang usianya di bawah 5 tahun. Hal ini dilakukan karena anak-anak masih sangat rentan terhadap infeksi penyakit. Sedangkan anak di usia lebih dari 5 tahun maupun orang dewasa sejatinya tidak memerlukan vaksin. Namun, jika orang tersebut sudah menderita penyakit seperti asplenia, HIV, ataupun anemia sel sabit, maka dokter kemungkinan akan menyarankan orang tersebut untuk diberikan vaksin.

  1. Jadwal Pemberian Vaksin

Sesuai dengan rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin ini diberikan pada anak secara bertahap. Yaitu dimulai sejak bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan booster yang diberikan antara usia 15-18 bulan.

  1. Efek Samping Yang Ditimbulkan

Efek samping yang mungkin terjadi pada bayi atau anak yang diberikan vaksin adalah demam ringan, nyeri atau bengkak pada area suntikan, maupun kulit kemerahan pada area tersebut. Efek samping ini adalah wajar adanya dan dapat hilang dengan sendirinya selama beberapa hari. Efek berat seperti alergi juga dapat terjadi, namun sangat jarang terjadi.

Itulah beberapa fakta mengenai HiB yang dapat menimbulkan beberapa penyakit berbahaya. Sebagai orang tua, kita harus memperhatikan imunisasi apa saja yang wajib diberikan kepada anak supaya nantinya kesehatan anak terjamin dengan baik hingga dewasa.

Cegah Penyakit Dengan Pemberian Imunisasi Campak Sejak Bayi

Penyakit campak dalam bahasa kedokteran disebut juga dengan penyakit MMR (Morbili Measles atau Rubella). Penyakit seperti ini disebabkan oleh virus dan sangat menular, terutama pada anak-anak. Umumnya gejala penyakit ini yang dialami anak-anak adalah ditandai dengan munculnya demam, ruam atau bintik-bintik merah hampir seluruh tubuh, mata memerah, batuk, pilek dan sakit tenggorokan. Salah satu cara untuk mencegah penyakit ini adalah dengan pemberian imunisasi.

Imunisasi campak sendiri memiliki pengertian berupa sebuah proses untuk memasukkan virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh. Proses ini memiliki guna untuk merangsang sistem imun tubuh agar bisa menghasilkan antibodi atau kekebalan terhadap penyakit tersebut. Pemberian imunisasi atau vaksin ini sangat bermanfaat untuk mencegah datangnya penyakit tersebut, atau setidaknya untuk mengurangi komplikasi yang ada jika tetap terserang penyakit.

Berikut adalah informasi penting mengenai penyakit MMR yang patut Anda ketahui. Mari kita simak bersama.

Informasi Jadwal Yang Tepat Dalam Pemberian Imunisasi Campak

  1. Jadwal pemberian vaksin berdasarkan rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama vaksin ini diberikan pada bayi dengan usia 9 bulan.
  2. Dosis kedua vaksin ini merupakan sebuah penguatan kedua (second opportunity) yang diberikan pada anak usia 15 bulan setelah dosis pertama. Dengan kata lain diberikan pada usia 24 bulan.
  3. Sedangkan jadwal vaksin yang ketiga diberikan kepada anak saat menginjak kelas 1 hingga 6 SD.
  4. Pemberian vaksin lainnya yakni disebut vaksin MMR yang sudah terdapat kandungan vaksin mumps (gondongan) dan juga rubella. Vaksin MMR ini diberikan kepada bayi yang menginjak usia 15-18 bulan.
  5. Imunisasi MMR ini harus diberikan kepada anak dalam kondisi tubuh yang fit dengan interval minimal 1 bulan sebelum ataupun sesudah penyuntikan imunisasi lainnya.
  6. Jika anak terlambat atau belum melakukan imunisasi, maka pemberiannya tetap harus berjalan sesuai dengan usia saat ini. Jika sekarang usianya antara 9-12 bulan, maka berikan imunisasinya kapan pun saat bertemu. Jika anak telah berusia lebih dari 1 tahun, maka berikan vaksin MMR. Namun jika vaksin MMR sudah diberikan pada usia 15 bulan, maka tidak perlu diberikan imunisasi biasa lagi pada usia 24 bulan. Setelah itu ikuti jadwal pemberian vaksin MMR.

Efek Samping Yang Mungkin Terjadi

  1. Imunisasi ini diberikan dengan cara disuntikkan pada lengan bagian atas. Efek pertama yang mungkin ditimbulkan adalah pada angka 5%-15% pasien akan mengalami demam yang ringan dan juga kulit kemerahan pada area yang disuntik.
  2. Efek yang kedua adalah kemungkinan terjadi infeksi pada area suntikan. Infeksi ini dapat terjadi jika jarum suntik yang digunakan tidak steril.
  3. Kemungkinan selanjutnya adalah anak akan mengalami demam, flu maupun batuk dalam jangka waktu satu minggu setelah penyuntikan terjadi.
  4. Rasa nyeri yang ringan serta pembengkakan pada area yang disuntikkan dalam waktu 24 jam.
  5. Lalu anak mungkin akan mengalami ensefalitis dan kejang demam, namun efek tersebut sangat jarang terjadi, meski pernah ada laporan tentang gejala tersebut.

Pemberian imunisasi campak ini tentunya menjadi salah satu kebutuhan bagi anak. Karena jika sudah terjangkit, penyakit ini akan sangat mudah menular kepada orang lain. Dan jika tidak segera ditangani akan muncul komplikasi-komplikasi yang lebih berat.